Cari

Distributor Daging Durian Medan

Web Resmi kami www.aslidurian.com

Diproteksi: Supplier Durian Medan Jakarta Bogor Depok Bandung

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Iklan

Di penghujung musim durian

Alhamdulillah dipenghujung musim, di akhir tahun yang sedang menunggu musim durian, 

permintaan durian terus meningkat terutama para pedagang2 sop durian di berbagai kota.

Harga durian yang saat ini sudah lumayan mahal pun, masih tetap diminati oleh komsumen2 kami.

Ketika harga sebanding dengan kualitas yang di dapatkan, insya Allah tidak mengecewakan para penggemar king’s of fruits ini..

Mohon dimaklumi harga durian yang terus meningkat alias meroket terus hari demi hari, berharap panen tahun ini lancar, buah2 manis2 dan tentu diharapkan juga dapatemberikan harga yang mani2 bwt para ibu2 reseller durian, dan bapak2 para partai besar durian..

Supplier Pancake Durian

Pancake Durian

Makanan yang satu ini kalau mau nebak rasa pasti pada bisa tahu donk, yaaaap rasa durian hihihi

Kami menawarkan Pancake durian dengan kualitas terbaik dan harga muraaaaaah yaah brooo,

Ambill banyak makin murah,inget ambil byk yaa

Selain pancake durian, kami juga menyediakan daging durian beku, durian kupas dan kebab durian…

Tuk harga monggo liat dibawah:

Daging durian 70rb

Durian kupas 60rb

Pancake durian 65rb

Ingat pembelian banyak minta potongan harga yaa,inget beli yang banyak yaa broo sist..

Wa 08990877864

Tlp 082122522503

Broo dan sist bisa dateng langsung yaa,alamat minta aja ma admin

Durian beku, Daging durian

image

Siapa yang tak kenal dengan sebutan King of Fruits, yap DURIAN..
Durian itu banyak orang suka, banyak juga orang yang gak suka dengan baunya, padahal banyak orang2 terdekat saya yang awalnya gak suka bau durian lama2 mau coba dan akhirnya jadi Durian Lovers juga hahaha..
Mamah yang tadinya pusing bau durian, sekarang mulai terbiasa bau durian dan semoga kedepannya jadi doyan makan durian juga ya mah..

Usaha durian banyak untungnya,asal kita pintar dalam mengolah durian seperti membuatnya menjafi sop durian,pancake durian,jus durian,durian goreng (makanan favorit pas ujan),es cendol durian, roti bakar durian,serabi durian,kopi durian dan masih banyak lagi yabg bisa dikreasikan dari durian ini..

Harga sewaktu-waktu berubah yak… kepoin via whatsapp ya

Wa 0899 0877 864
Tlp 0821 225 225 03

Pengiriman Pakai Gojek Go-Send

Per 2 November 2015, tarif Gojek naik yang sebelumnya 10ribu/25km menjadi 2500/km atau cek di website Gojek….

2015-10-08-15-20-19 2015-10-17-17-49-32 2015-10-17-17-49-53 2015-10-17-17-56-45 2015-10-17-17-56-56 2015-10-22-08-17-17 2015-10-26-13-31-18 2015-10-26-14-42-58 2015-10-26-14-43-08 2015-10-28-15-08-09 2015-10-30-14-12-46 2015-11-01-17-16-06 C360_2015-10-31-13-17-31-039 IMG_20151101_140749 IMG_20151101_144814 IMG_20151101_152159 IMG-20151017-WA0001 IMG-20151017-WA0002 IMG-20151017-WA0003 IMG-20151017-WA0004 IMG-20151101-WA0000 Screenshot_2015-10-06-13-56-52 Screenshot_2015-10-06-22-04-54 Screenshot_2015-10-06-22-49-14 Screenshot_2015-10-06-22-49-36 Screenshot_2015-10-10-14-32-31 Screenshot_2015-10-10-14-32-31-1 Screenshot_2015-10-12-14-38-57 Screenshot_2015-10-12-17-06-30 Screenshot_2015-10-12-17-06-30-1 Screenshot_2015-10-12-17-08-14 Screenshot_2015-10-15-15-17-55 Screenshot_2015-10-15-15-36-58 Screenshot_2015-10-15-15-51-50 Screenshot_2015-10-15-20-26-56 Screenshot_2015-10-15-20-30-18 Screenshot_2015-10-22-08-00-33 Screenshot_2015-10-22-08-00-52 Screenshot_2015-10-22-16-45-10 Screenshot_2015-10-27-17-03-59 Screenshot_2015-10-27-17-05-01 Screenshot_2015-10-28-13-40-59 Screenshot_2015-10-28-14-45-48 Screenshot_2015-10-31-07-43-04 Screenshot_2015-10-31-13-26-39 Screenshot_2015-10-31-13-27-04 Screenshot_2015-10-31-21-58-53 Screenshot_2015-11-01-17-20-28

Bukti Transfer

2015-11-01-18-27-09 IMG-20151006-WA0001 IMG-20151006-WA0003 IMG-20151012-WA0000 IMG-20151020-WA0001 IMG-20151021-WA0001 IMG-20151027-WA0000 IMG-20151028-WA0000 IMG-20151028-WA0005 IMG-20151101-WA0000

Testimoni Durian Beku dan Durian Cup

2015-10-08-16-33-16 2015-10-30-09-10-31 2015-10-30-09-11-43 2015-10-31-08-02-18 2015-10-31-14-01-47 2015-10-31-18-01-37 2015-11-01-11-18-33 2015-11-01-18-23-45 2015-11-01-18-25-24 2015-11-01-18-26-41 IMG-20151028-WA0000 IMG-20151030-WA0000 Screenshot_2015-10-15-11-38-39

JUAL DURIAN BEKU

Assalamualaikum,

durian beku

durian beku againdurian beku lagi

Kami adalah distributor daging durian beku yang berada di Depok, menawarkan kepada anda reseller dan durian lovers untuk menikmati durian beku dan pancake durian dengan harga murah.

Durian kami langsung dari kebun di Medan

Posisi kami di Depok, (Cilodong).

Kami menerima order SATUAN, atau order dengan harga RESELLER, PARTAI.

Kami juga menerima order pancake durian medan dengan harga terjangkau.

*bisa COD
*free ongkir daerah Depok min order 20kg

Ongkir tergantung ketetapan kami, kalau dianggap jauh dan pada jam pulang kerja (macet) maka ongkir diberlakukan, mulai Rp.8000-Rp.90.000,- tergantung jarak dan prerogratif kami (negotiable).

Durian kami adalah durian pilihan, yang prosesnya tersortir hanya yang baik dan layak saja. Durian kami asli dari medan, tanpa campuran, tanpa pengawet,.

Pembeli akan diberitahu bagaimana penyimpanan durian agar tetap baik dalam penyimpanan.

Keuntungan Anda Order dengan kami :
Anda di Jabodetabek tidak perlu jauh2 ke bandara, lebih menghemat ongkos anda ke BANDARA KARGO – RUMAH (usaha anda). Kemudian Anda juga tidak perlu khawatir akan penipuan, karena Anda bisa melihat langsung tempat penyimpanan kami. Terakhir Anda dapat membeli seperlunya, tidak harus membeli minimal 25kg.

*Harga durian dapat berubah tanpa pemberitahuan

Hubungi
Whatsapp : 0899 0877 864
Telephone : 0821 225 225 03
Pin BB : D004B31D

Terimakasih..
Wassalamualaikum Wr.Wb…

Proposal penelitian

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.   Latar Belakang Masalah

Pendidikan di Sekolah Dasar mencakup beberapa mata pelajaran. Salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan antaranya adalah Matematika. Matematika menjadi matapelajaran yang diajarkan dari kelas 1 sampai dengan kelas VI. Akan tetapi untuk seorang anak tunagrahita mata pelajaran Matematika menjadi pelajaran sulit.

Menurut Joseph Payne dalam Mathematics for young Child, NCTM (National Council of Teaching Mathematics), Ia menulis: ” Sebenarnya tak seorangpun mampu mengajarkan matematika kepada siswanya. Guru efektif itu ialah orang yang bisa memberi rangsangan kepada siswa untuk belajar matematika. Penelitian pendidikan memperlihatkan bukti bahwa siswa belajar matematika dengan baik ketika mereka membangun sendiri pengertian tentang matematika. Tingkat pengetahuan anak adalah unik, keunikan ini ditunjukkan dengan adanya siswa yang belum ingat, hampir tahu, hampir mengerti, mengerti dan mampu memecahkan masalah dan bahkan ada yang sudah menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan sangat diperlukan bagia anak tunagrahita agar mampu dalam beraktifitas dikehidupan sehari-hari tanpa tergantung dengan orang lain.

Dalam proses belajar guru merupakan salah satu komponen penentu keberhasilan belajar siswa supaya mencapai keberhasilan sesuai dengan tujuan pelajaran. Disamping itu seorang guru di dalam kegiatan pembelajaran dituntut kemampuannya untuk menciptakan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien. Berkaitan dengan itu, Sardiman (2006:135) menyatakan :

”Ada 3 tingkat profesional guru dalam bidang kependidikan yaitu: 1). capable-personal, artinya guru dapat diharapkan memiliki pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan serta sikap yang lebih mantab sehingga mampu mengelola proses belajar mengajar secara efektif; 2) guru sebagai inovator, artinya memiliki pengetahuan dan kecakapan dan serta sikap yang tepat terhadap suara pembaharuan; 3) guru sebagai developer, artinya guru harus dihadapi dalam sektor pendidikan.

Sebagai salah unsur dalam pembelajaran, Matematika merupakan salah satu materi pelajaran yang diajarkan disekolah. Namun selama ini matematika bagi siswa pada umumnya merupakan pelajaran yang tidak disenangi, matematika bagaikan pelajaran yang menakutkan. Nilai matematika selalu lebih rendah daripada pelajaran yang lain. namun, pelajaran matematika sangat penting bagi anak tuna grahita meskipu terbatas pada bilangan tertentu. dalam mengikuti proses pembelajaran khususnya mata pelajaran matematika diperlukan pelayanan khusus sesuai dengan kondisi siswa. pada proses belajar mengajar matematika selain melibatkan pendidik dan siswa secara langsung, juga diperlukan pendukung yang lain yaitu : alat pelajaran yang memadai, penggunaan metode yang tepat, serta situasi dan kondisi lingkungan yang   menunjang.

Anak tunagrahita merupakan salah satu anak luar biasa yang kemampuan intelektualnya dibawah rata-rata dan memiliki kelemahan dalam berpikir dan bernalar. akibat dari kelemahan tersebut anak tuna grahita ringan memiliki kemampuan belajar dan beradaptasi sosial yang berada dibawah rata-rata. anak tunagrahita ringan juga mengalami masalah dalam bidang akademik khususnya menulis, membaca dan berhitung. mereka secara fisik tampak seperti anak normal pada umumnya. oleh karena itu agak sukar membedakan secara fisik antara anak tunagrahita ringan dengan anak normal. secara fisik anak tunagrahita ringan tidak memiliki hambatan.

Masalah utama yang dihadapi oleh anak tunagrahita ringan terletak pada masalah mental dan psikis yaitu berkaitan dengan kemampuan intelektual yang dibawah rata-rata, kemampuan berfikir rendah, perhatian dan daya ingatannya lemah , sukar berpikir abstrak, maupun tanggapan yang cenderung konkret visual dan mudah bosan. hal tersebut ditunjukkan misalnya dalam materi mengenal bilangan.

Pemberian materi dengan melibatkan keaktifan siswa pada saat belajar yang sesuai dengan materi pengajaran khususnya mata pelajaran Matematika salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar Matematika.

alasan diambilnya model pembelajaran konstruktivistik dan dihubungkan dengan pemahaman karena pada dasarnya semua siswa mampu mengembangkan pemahamannya terhadap operasi penjumlahan. sesuai pendapat Butterworth dalam Paul Ginnis, … gen-gen kita terdir dari suatu set instruksi untuk membangun otak matematik dan inilah mengapa, tanpa diajar, manusia dilahirkan untuk berhitung.[1]

Pemahaman yang kurang dari anak tunagrahita, berdasarkan hasil belajar matematika tentang penjumlahan, terbukti dari prosentasi ketuntasan belajar anak pada materi ini hanya mencapai nilai rata-rata 60,5 dalam satu kelas.

Berdasarkan pengamatan dilapangan dapat disimpulkan bahwa, pemahaman yang urang pada kompetensi penjumlahan pada bilangan idi Kelas V SLB Cempaka Putih ini disebabkan karena guru tidak emmusatkan masalah sebagai perhatian pada pembelajaran menggunakan alat peraga dan masih menggunakan cara mencontoh langkah-langkah saja.

Guru memberi pengajaran mencontohkan langkah untuk menjelaskan cara menjawab permasalahan, sehingga saat proses belajar mereka belum mampu membicarakan dan menjelaskan jalan berpikir, tidak mengerti penjumlahan dua angka dengan satu angka dan dua angka dengan dua angka. Latar belakang lainnya adalah tidak adanya keterlibatan aktif dari siswa untuk membangun cara berpikir kreatif. Sehingga mereka tidak mengerti konsep penjumlahan dalam memecahkan masalah

Sebenarnya tidak ada kata tidak untuk melaksanakan model pembelajaran konstruktivistik memerlukan model pembelajaran ini untuk membuka pikiran atas apa yang mereka sedang pikirkan pada alam pikiran mereka. Guru membukahal tersebut dengan menerapkan cara kerja kelompok dilengkapi dengan permainan bebas aktif melalui benda-benda konkret untuk mampu berhitung menjumlah.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik mengaankat model pembelajaran konstruktivistik karena model pembelajaran ini memperhatikan perbedaan siswa sebagai individu. Model pembelajaran ini tidak terlalu menekankan hasil yang bagus tetapi menekankan proses sebagai hal bertahap mencapai pengertian dan pembelajaran.

 

  1. B.   Identifikasi Area dan Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah , teridentifikasi fokus-fokus penelitian guna meningkatkan kemampuan berhitung penjumlahan secara optimal :

  1. Bagaimana melakukan penjumlahan dua angka dengan satu angka dan dua angka.
  2. Bagaimana mengajarkan memecahkan masalah penjumlahan dalam soal cerita.
  3. Bagaimana memusatkan masalah dengan menggunakan alat peraga.
  4. Bagaimana mengajarkan penjumlahan dengan menggunakan metode pembelajaran konstruktivistik?

 

  1. C.   Pembatasan Fokus Penelitian

Mengingat banyaknya permasalahan yang telah diidentifikasikan di atas, peneliti tidak akan mengkaji seluruh permasalahan dalam penelitian ini, penelitian yang peneliti laksanakan hanya terbatas pada kajian tentang upaya meningkatkan kemampuan penjumlahan dengan metode pembelajaran konstruktivistik.

 

D. Perumusan Masalah Penelitian

Dengan mencermati apa yang telah diuraikan pada latar belakang masalah, maka perumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah : “Bagaimanakah dengan menggunakan  metode pembelajaran  kontrukstivistik dapat meningkatkan pemahaman operasi penjumlahan siswa?”

 

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai bahan masukan bagi :

  1. 1.    Siswa

Bagi sisiwa hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman pada operasi penjumlahan dalam pembelajaran matematika dan meningkatkan kemampuan berhitung dalam kehidupan sehari-hari.

 

  1. 2.    Guru

Dapat dijadikan sebagai salah satu upaya meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesional dalam pembelajaran matematika di kelas bagi siswa tunagrahita.

 

  1. 3.    Peneliti

Dapat dijadikan sebagai masukan dan bekal untuk berperan agar memberikan kontribusi positif terhadap keberhasilan belajar siswa..

 

 

 


[1] Paul Ginnis, Trik dan Taktik Mengajar Strategi Meningkatkan Pencapaian Pengajaran di Kelas (Jakarta: Indeks, 2008), p.17

BAB II

ACUAN TEORITIK DAN KERANGKA BERFIKIR

 

  1. A.   Acuan Teoritik dan Fokus yang diteliti
  2. 1.    Hakekat Pemahaman

a. Pengertian Pemahaman

Pemahaman adalah kemampuanuntuk membaca dan memahami gambaran, laporan, table, diagram, arahan dan peraturan (Wikipedia). Sedangkan menurut Winkel, pemahaman adalah kemampuan menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari.[1]  Adanya kemampuan ini dapat dilihat dalam kemampuan menguraikan isi pokok dari suatu bahasan, kemampuan mengubah suatu data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk yang lain, seperti rumusan matematika dalam bentuk kata-kata.

Anderson dalam HAsanah menggunakan istilah (mengerti) understand sebagai padanan kata pemahaman. Understand adalah kemampuan merumuskan makna dari pesan pembelajaran dan mampu mengkomunikasikannya dalam bentuk lisan, tulisan maupun grafik.[2] Kata kerja yang sering disepadankan dengan kata pemahaman adalah menginterpretasikan, memberi contoh, mengklasifikasi, menyimpulkan, membandingkan dan menjelaskan.[3] Menginterpretasikan adalah kemampuan mengubah sajian informasi dari suatu bentuk ke bentuk yang   lain. Memberi contoh adalah kemampuan memberikan contoh khusus dari suatu konsep atau prinsip. Klasifikasi adalah kemampuan untuk meilah contoh dan yang bukan contoh dari suatu konsep atau prinsip. Menyimpulkan adalah kemampuan untuk menyusun pernyataan tunggal yang mewakili suatu informasi. Membandingkan adalah kemampuan menunjukkan persamaan dan perbedaan antara dua atau lebih objek. Menjelaskan adalah kemampuan merumuskan dan menggunakan model sebab akibat sebuah system. Siswa yang memiliki kemampuan menjelaskan dapat menggunakan hubungan sebab akibat antar bagian dalam suatu system.

Menurut Benyamin Bloom dalah Ginnis, pemahaman diuraikan sebagai menyusun ulang kara, mengubahm merangkum, menjelaskan, mendefinisikan, menafsirkan, mnyusun ulang kalimat, mempara-phrase, mengubah urutan, memahami, mengonsep dan menghitung.[4] Proses terjadinya pemahaman karena adanya kemampuan menjabarkan sesuatu materi ke materi lain. Pemahaman ini misalnya, ia dapat menjelaskan angka ke dalam narasi. Siswa dapat menafsirkan sesuatu melalui pernyataan dengan kalimat sendiri.

Paul R Burden dan David M Byrd berpendapat bahwa pemahaman atau comprehension adalah understand fact and principles, interpret verbal material, interpret charts and graphs, translate verbal material to math formulas estimate future consequences, imlied date justifies methods and procedures.[5]

Arti dari kalimat di atas adalah memahami fakta dan prinsip, menafsirkan bahan perkataan, menafsirkan bagan dan grafik, menterjemahkan materi perkataan menjadi rumusan matematika, memperkirakan konsekuensi pada masa yang akan dating, menafsirkan data sesuai cara dan prosedur

Adapun menurut Caine dalam Ginnis, bahwa pemahaman adalah kemampuan untuk memahami materi dengan cara menamainya dan menguasai atau sense.[6] Kemampuan menamai adalah mengeri pada permukaan saja berartu secara dalam.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pemahaman adalah kemampuan untuk emerikan label atau didalam operasionalnya menamai bilangan, kemampuan menafsirkan bilangan sebagai menguasai bilangan, kemampuan mencontohkan sebagai menjumlah suatu bilangan, kemampuan menggolongkan sebagai menulis nama dan lambang bilangan, kemampuan menyimpulkan sebagai mengubah konsep.

 

  1. 2.    Hakikat Penjumlahan

a. Pengertian Penjumlahan

Penjumlahan merupakan bagian ddari pembelajaran matematika. penjumlahan adalah susatu cara pendek untuk menghitung. Menurut Akbar Sutawijaya, dkk penjumlahan merupakan anggota gabungan dua himpunan yang terpisah. Artinya menggabungkan dua atau beberapa himpunan. Sementara menurut Muchtar A. Karim mengatakan bahwa operasi penjumlahan dasarnya merupakan suatu aturan yang mengaitkan setipa pasangan bilangan cacah dengan bilangan cacah lainnya. Penjumlahan bilangan bulat merupakan penggabungan bilangan-bilangan yang terdiri dari bilangan asli, nol dan semua lawan dari bilangan asli. Simbol untuk operasi penjumlahan adalah tanda plus ( + ).

Membicarakan pengertian operasi penjumlahan berawal dari cara siswa berhitung menurut kemampuan mereka yang unik, sebagaimana yang dikatakan oleh Clements dan kawan-kawan sebagai berikut. There are three’ how-to-count principles. According astable-order principle, the number names that child uses must be arranged in stable, or repeatable two processes- [artitioning and labeling. The cardinal principle states that the final numeral has special significance- it represents the how many ness of the set as a whole. Arti dari kutipan dia atsa adalah peneliti terdahulu sudah memastikan bawha setiap anak kecil telah mempunyai cara berhitung mereka secara unik, sejak taman kanak-kanak. Cara berhitung tertentu yang unik yang telah dimiliki beragam caranya bahkan sejak mereka di Taman Kanak- Kanak. Adapun cara berhitung yang dimaksud adalah sebagai berikut: cara pertama, menunjukkan objek satu persatu dengan mebilang objek tersebut menggunakan bilangan dari terkecil secara satu persatu sampai objek tersebut selesai dihitung, proses ini dinamakan stable-order-prinsiple atau menghitung berurutan stabil. Cara menghitung berurut misalnya menamakan benda yang pertama disebut dengan satu, yang kedua dengan dua dan seterusnya.

Cara kedua, membilang dari titik bilangan yang telah ia ketahui dan menyebutkan secara satu persatu, di mulai setelah bilangan yang ia ketahui sampai bilangan dan objek itu selesai dihitung. Penjumlahan seperti 8+4=… bagi siswa yang menghitung memisah dimulai setelah bilangan delapan dan menghitung satu eprsatu dengan keempat jarinya, bilangan empatnya dimulai dengan 9, 10, 11, 12. Bilangan terakhir adalah bilangan yang menunjukakan berapa jumlah benda yang dihitung disebut dengan cara berhitung the one-one principle.

Cara berhitung ketiga, yang disebut denga cardinal principle, artinya mereka menghitung langsung dengan bilangan yang diketahui misalnya 3+4=… mereka telah mengetahui secara mental banhwa symbol 3 diartikan dengan banyak benda yang berjumlah tiga secara otomatis mereka melihat symbol dengan tanda + sebagai menambah dan symbol lainnya sengan banyak benda lainnya yang digabung dan jumlahnya adalah berepa banyak benda yang dihitung.

Selama mempelajari penjumlahan sebenarnya siswa berusaha untuk menggabungkan benda-benda yang dihitungnya. menghitung cara menggabungkan bagi siswa dihitung dengan hitungan berurut dari awal benda yang ada sampai benda itu habis dihitung satu persatu. Cara seperti ini sering kali mereka lakukan langsung dengan jari mereka sendiri.

Secara konkret, benda-benda yang dapat dipegang dan dilihat serta dipindahkan sperti kubus yang terhubung dan lainnya, dapat dihitung dengan cara menghitung menggabung ini. Siswa akan terlihat menjumlah sesuai dengan kemampuan mreka masing-masing

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa penjumlahan adalah penggabungan dari beberapa benda atau bilangan dari jumlah adalah satu operasi hitung bilangan.

 

 

 

 

  1. 3.    Hakekat Tuna Grahita
    1. a.    Pengertian Anak Tuna grahita

            Keadaan setiap manusia berbeda satu dengan yang lain, masing-masing memiliki keunikan. kelemahan dan kelebihan dimiliki setiap anak, masing-masing anak terlahir dalam keadaan yang berbeda, demikian juga dalam hal kemampuan berpikir. Anak yang mengalami kelemahan atau kelainan dalam berpikir secara umum sering disebut dengan anak dibawah normal atau tunagrahita. Anak tunagrahita adalah merupakan individu yang utuh dan unik. Banyak definisi atau pengertian yang dapat menjelaskan tentang anak dengan gangguan intelektual atau tunagrahita, para ahli mendefinisikan anak dengan gangguan intelektual menurut bidang mereka masing-masing. para dokter biasanya mendefinisikan kea rah medis yaitu oenyakit, lain lagi untuk  para guru yang lebih mendefinisikan kearah kondisi intelegensi.

Tunagrahita adalah kata lain dari retardasi mental (mental redarsation). arti harfiahnya adalah dari kata tuna yaitu merugi sedangka grahita adalah pikiran, ditandai oleh cirri utamanya adalah kelemahan dalam berfikir dan bernalar. akibat dari kelemahan tersebut anak tunagrahita memilki kemampuan belajar dan adaptasi sosialnya berada dibawah rata-rata.

tunagrahita menjelaskan tentang kondisi anak yang kecerdasannya dibawah rata-rata yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam interaksi social.

Para ilmuwan telah mengalami kesulitan untuk menemukan suatu definisi yang memuaskan tentang anak tunagrahita atau anak retardasi mental berbagai variable. pada tahun 1961 American Assosiation on Mental Deficiency (AAMD), mendefinisikan retardasi mental sebagai kelainan yang (1) meliputi fungsi intelektual umum dibawah rata-rata (subaverage), yaitu IQ 84 kebawah berdasarkan tes individual, (2) muncul sebelum usia 16 tahun dan (menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif). keriga criteria tersebut harus ditemukan sebelum seseorang anak dinyatakan sebagai anak tunagrahita atau retardasi mental.

Menurut Japan League for the Mentally Retarded (1992:p.22) yang dimaksud dengan retardsai mental adalah fungsi intelektualnya lamban yaitu IQ 70 kebawah berdasarkan tes intelegensi baku, kekurangan dalam perilaku adaptif dan terjadi pada masa perkembangan, yaitu antara konsep hingga usia 18 tahun. Baik definisi yang dikemukakan oleh Japan League for the Mentally Retarded mengandung persamaan tetapi juga perbedaan. persamaannya adalah (1) IQ berada dibawah rata-rata secara nyata, (2) adanya kekurangan dalam perilaku adaptif dan (3) terjadi pada masa perkembangan. perbedaan pada batas atas skor IQ anak tunagrahita dan batas usia perkembangan. jika menurut Japan League for the Mentally Retarded anak yang memiliki IQ 70 sudah dinyatakan sebagai anak tunagrahita maka menurut AAMD anak yang memiliki IQ 84 kebawah yang sudah disebut tunagrahita.

Menurut pendapat Warner didalam buku terapi okupasi untuk anak berkebutuhan khusus karangan Sujarwanto, anak dengan gangguan intelektual atau retardasi mental adalah anak yang mengalami keterlambatan atau kelambatan perkembangan mental. Anak yang mengalami gangguan intelektual mempelejari berbagai hal yang lebih lambat dari pada berbagai hal lebih lambat daripada anak-anak lain sebayanya. anak mungkin terlambat mulai bergerak, tersenyum, menunjukkan minat pada berbagai hal atau benda, menggunakan tangannya, duduk, berjalan, berbicara dan mengerti. Atau mungkin memiliki kemampuan-kemampuan itu lebih cepat, tetapi lebih lambat dalam hal-hal lain.

Fungsi intelektual dibawah normal yang dimaksud adalah menunjukkan secara essensial pada kelambanan kemampuan anak dalam memproses informasi yang diterima. hal tersebut dapat dilihat secara nyata dengan melakukan tes intelegensi secara individual. ingatan anak dengan gangguan intelektual kurang efisien dank arena itu ada yang mengatakan sebagai anak yang lemah ingatan. kemampuan untuk menuangkan ide sangat terbatas, begitu juga kemampuannya dalam menggunakan informasi untuk bernalar, menghitung atau meramal kemungkinan dan mengevaluasi suatu keadaan.

Hambatan penyesuaian perilaku adaptif yang dialami oleh anak dengan gangguan intelektual adalah kurang mampu melakukan perkerjaan-pekerjaannya sesuai dengan umurnya. Anak dengan gangguan intelektual hanya mampu melakukan pekerjaan seperti yang dapat dilakukan oleh anak usia dibawahnya. Dengan keterbatasan tersebut maka anak dengan gangguan intelektual mengalami hambatan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. hal tersebut memang belum bisa diukur secara formal namun bisa dilihat dari pengalaman dilapangan.

Gangguan intelektual biasanya pada masa perkembangan anak hingga usia remaja. dimanifestasikan dalam periode perkembangan berarti bahwa gangguan tersebut harus dapat diobservasi selama masa kanak-kanak. adanya gejala sakit mental atau disfungsi otak yang muncul pada masa dewasa tidak dapat digolongkan ke dalam gangguan intelektual atau tunagrahita. terdapat perbedaan antara gangguan intelektual dengan sakit mental atau sakit jiwa. gangguan intelektual adalah ketidakmampuan untuk memecahkan persoalan yang disebabkan oleh kecerdasan yang kurang berkembang dan kemampuan adaptifnya terhambat, sedangkan sakit mental atau sakit jiwa merupakan kegagalan dalam membina kepribadian.

Jadi menurut beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian dari anak gangguan intelektual adalah mereka yang mengalami kondisi fungsi intelektual berada dibawah rata-rata anak normal seusianya berdasarkan tes individu sehingga mengalami hambatan dalam adaptasi tingkah laku dan asosiasi lingkungan yang terjadi sejak masa perkembangan sampai usia remaja.

Menurut beberapa pendapat para ahli tentang pengertian tunagrahita dapat kita ambil kesimpulan bahwa, anak tunagrahita adalah anak yang memiliki fungsi intelektual umum dibawah rata-rata IQ 84, muncul sebelum usia 18 tahun, menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif

 

  1. b.    Klasifikasi anak tunagrahita

Klasifikasi diperlukan untuk memudahkan pemberian bantuan atau pelayanan kepada anak tunagrahita. tunagrahita adalah istilah yang digunakan untuk anak yang memiliki perkembangan intelegensi yang terlambat. setiap klasifikasi selalu diukur dengan tingkat IQ mereka, yang terbagi menjadi tiga kelas yaitu tunagrahita ringan, tunagrahita sedang dan tunagrahita berat.

Klasifikasi anak gangguan intelektual menurut DSM IV yang dikutip oleh DSM IV yang dikutip oleh Sri Suwartinahyaitu:

1. retardasi mental ringan atau mild Mental retardation kategori ini Educable:

a) IQ 52-67 (55 s/d 70)

Karakteristik:

1)  Tidak memperlihatkan kelainan fisik

2)  Agak mengalami keterlambatan dalam belajar bahasa

3)  terdapat gangguan area sensori motor baru mengembangkan kemampuan social dan komunikasi selama masa preschool 0-5 tahun

4)  `mampu mandiri

5)  Mengalami kesulitan dalam sekolah

6)  sedikit rendahnya proses penyesuaian diri dari anak normal.

 

2. Retardasi Mental sedang atau Moderate Mental Retardation kategori Trainable:

a) IQ 36-51 (Stanford-Binet) (35-40 s/d 50-55)

Pada masa ini anak dapat diajarkan lewat program training keterapilan social dan okupasional. pekerjaan yang dapat mereka lakukan ketika dewasa bersifat semi skill, dibawah pengawasan.

Karakteristik:

1) Termasuk mampu latih untuk beberapa keterampilan tertentu

2) Terkadang menampakan kelainan fisik berupa gejala bawaan

3) Lambat dalam pengembangan pemahaman penggunaan bahasa

4) Keterampilan merawat diri dan motorik terlambat

5) Ada yang agresif dan sikap bermusuh terhadap yang belum kenal.

 

3. Retardasi Mental Berat atau Severe Mental Retardation, terjadi selama masa kanak-kanak berlangsung

a) IQ 20-35 (Stanford-Binet) (IQ 20-25 s/d 35-40)

Karakteristik:

1) Menunjukkan banyak masalah

2) Terkadang masih ada yang bisa komunikasi, tetapi ada juga yang  sama sekali tidak bisa berkomunikasi.

3) Mengalami gangguan bicara

4) Daya motorik berat

5) Tidak mampu mengurus diri sendiri

6) Menunjukkan kerusakan perkembangan susunan saraf pusat

7) Anak dapat dilatih berbicara didalam skill perawatan diri dasar, yang akan membuat anak sedikit kemampuan akademik sederhana, berhitung dan membaca.

8)Anak pada kondisi ini mengalami kecacatan yang cukup membutuhkan perawaran khusus.

 

4. Retardasi Mental Sangat Berat atau Profound Mental Retardation

a) IQ dibawah 20 (Stanford-Binet)

Karakteristik:

1) Menampakkan kelainan fisik yang nyata

2) memperlihatkan kelainan otak

3) Mengalami gangguan serius pada fungsi psikomotorik

4) Penyesuaian diri sangat kurang

5) Selalu butuh pengawasan dan bantuan

6) Pemahaman dan penggunaan bahasa yang sangat terbatas

7) Mempunyai sedikit sekali kemampuan merawat diri

8) ngompol S.M Lumbantobing, Anak dengan Mental terbelakang (Jakarta : FKUI, 1998) h.5

Jadi dalam klasifikasi tunagrahita dapat dibedakan berdasarkan kemampuan akademik dan sosialisasinya. Semakin rendah kemampuannya semakin terbatas pula kemampuan yang dimiliki.

Klasifikasi anak tunagrahita oleh Grossman seperti dikutip Kirk dan Gallagher berdasarkan tingkat intelegensi dengan menggunakan skala wecshler yaitu: Retardasi mental ringan (Mild Mental Retardation) IQ 55-59, Retardasi mental sedang (Moderate Mental Retardation) IQ 40-54, Retardasi Mental Berat (Severe Mental Retardation) IQ 25-39, Retardasi mental sangat berat (Profound Mental Retardation IQ 24 kebawah). Klasifikasi tersebut menunjukkan fungsi intelektual secara nyata dibawah rata-rata. Jadi seseorang dikatakan anak gangguan intelektual jika intelegensinya kurang dari 70 skala Wechsler.

Pengklasifikasian anak tunagrahita yang sudah lama dikenal ialah Debil untuk yang ringan, Imbesil untuk yang sedang dan idiot untuk yang berate dan sangat berat. Pengelompokan anak tunagrahita yang digunakan oelh kalangan pendidik di Amerika ialah Educable Mentally Retarded, Trainable Mentally Retarded dan Totally/ Custodial Dependent yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia : Mampu didik, Mampu latih dan mampu rawat.

Klasifikasi runagrahita menurut DSM IV (American Psikiatrik Association, Washington, 1994) sebagai berikut :

 

a. Tunagrahita ringan

Mereka yang termasuk dalam kelompok retardasi yang dapat dididik (educable). Pada usia prasekolah (0-5 tahun) mereka dapat mengembangkan kecakapan social dan komunikatif, mempunyai sedikit dalam bidang sensorimotor dan sering tidak dapat dibedakan dari anak yang tanpa retardasi mental, sampai pada usia yang lebih lanjut. Pada usia remaja, mereka dapat memperoleh kecakapan akademik sampai kira-kira tingkat 6 (kelas 6 SD)

b. Tunagrahita sedang

Mereka yang termasuk dalam kelompok retardasi dapat dilatih (trainable). Mereka dapat memperoleh manfaat dari latihan kecakapan social dan okupasional namun mungkin tidak dapat melampaui pendidikan akademik lebih dari tingkat 2 (kelas 2 SD)

c. Tunagrahita berat dan sangat berat

Anak yang tergolong dalam kelompok ini pada umumnya hamper memiliki kemampuan untuk dilatih mengurus diri sendiri, melakukan sosialisasi dan bekerja. Sepanjang hidupnya mereka akan selalu tergantung pada bantuan dan perawatan orang lain. (SM Lumbantobing, Anak dengan Mental terbelakang Jakarta: FKUI, 1998 h.5). Pada pembatasan derajat tunagrahita ini tergantung dari ukuran intelektual seseorang. Sehingga mempengaruhi kemampuan yang dimiliki.

 

  1. c.    Penyebab Tunagrahita

Pengetahuan tentang penyebab retardasi mental atau tuna grahita dapat digunakan sebagai landasan dalam melakukan usaha-usaha preventif. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tuna grahita dapat disebabkan oleh berbagai factor, yaitu:

  1. Genetik
  2. Prenatal
  3. Perinatal
  4. Postnatal
  5. Faktor-faktor sosio-kultural

 

  1. Factor Genetik

Pada beberapa tahun sebelumnya kondisi-kondisi yang berkaitan dengan tuna grahita belum diketahui orang. Penemuan di bidang biokimia dan genetic telah memberikan penjelasan tentang penyebab tunagrahita. Teknik khusus telah dikembangkan yang memungkinkan dilakukanya studi jaringan kultur dan identifikasi beberapa kromosom. Berikut ini dikemukakan penyebab tuna grahita berupa:

a. Kerusakan biokimiawi yaitu para ahli biokimia telah mengidentifikasi sejumlah substansi kimia yang dapat berpengaruh terhadap kondisi genetic abnormal misalnya materi kimia berupa karbohidrat, lemak dan asam amino.

b. Abnormalitas Kromosomal paling umum ditemukan adalah sindroma down atau sindromamongol. Keadaan penyakit ini dikemukakan oleh LAngdoa Down sekitar 100 tahun yang lalu. Anak yang lahir dengan sindroma Down mengalami retardasi mental dan memiliki IQ 20 sampai 60 dengan mayoritas rentangan 30 sampai 50. Dalam tahun 1959 Lejeune, Gautier dan Turpin (Kirk dan Galagher, 1979: p.118) menemukan bahwa pada anak dengan sindroma Down memiliki 47 kromosom karena pasangan kromosom ke-21 terdiri dari 3 kromosom atau triplet yang biasa yang disebut trisomi. Sampai decade terakhir diagnosis sindroma Down memiliki berbagai kondisi patologik yang memungkinkan terjadinya sindroma Down tidak hanya pada saat kelahirab tetapi juga sesudahnya. Perkembangan teknik diagnosis baru yaitu amniocentesis (pemeriksaan cairan plasenta) telah membuka kesempatan untuk mendiagnosis lebih dini. Dengan demikian resiko yang tinggi untuk memilki anak dengan sindroma Doen dapat dideteksi lebih dini dalam kehamilan.

 

  1. Masa Prenatal

Terdapat beberapa kondisi tyang dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan embrio dan yang menyebabkan kesalahan perkembangan system saraf serta menyebabkan retardasi mental. Masalah-masalah tersebut menimbulkan pertanyaan-pertanyaan mengenai pengaruhnya terhadap intelegensi anak-anak yang diturunkan yang disebabkan oleh keadaan nutrisi ibu, psikologis, dan lingkungan fisik. Tidak ada jawaban yang universal kecuali beberapa kasus seperti infeksi rubella, factor P.hesus (Ph)

 

  1. Masa perinatal

Diagnosis kerusakan otak anak-anak sering berhubungan dengan kejadian-kejadian pada saat kelahiran, yang kemudian diduga berhubungan dengan retardasi mental. Data tentang proses kelahiran yang berhubungan dengan lamanya kelahiran dan kesulitan kelahiran, penggunaak alat kedokteran, lahir sungsang dan penyebab-penyebab lain mungkib dapat menuntun seseorang untuk menegakkan diagnose umum dan kerusakan otak tanpa spesifikasi kerusakan. Penyebab lain dari kerusakan otak adalah sesak napas yang disebabkan oleh kekurangan oksigen dalam otak selama proses kelahiran

  1. Masa Postnatal

Kekurangan nutrisi sering dianggap sebagai penyebab utama terjadi retardasi mental. Malnutrisi pada seorang ibu yang sedang hamil dan menyebabkan prematuritas dan prematuritas dapat meningkatkan resiko kerusakan otak pada fetus. Seorang ibu yang miskin akan mengalami kesulitan untuk menyediakan pemeliharaan kesehatan yang cukup sehingga meningkatkan angka kematian bayi dan komplikasi kelahiran yang dapat meningkatkan jumlah anak retardasi mental. Hal ini dapat dilihat banyaknya anak-anak retardasi mental yang berasal dari keluarga miskin daripada yang berasal dari keluarga mampu.

  1. Penyebab Sosiokultural

Peran nyata dari lingkungan dalam perkembangan kemampuan intelektual masih belum dapat dipahami secara jelas, tetapi para psikologis dan pendidik umumnya mempercanyai bahwa lingkungan social budaya berpengaruh terhadap kemampuan intelektual yang dikemukakan oleh Itard.

 

 

  1. d.    Pengertian Tunagrahita sedang

Anak tunagrahita sedang merupakan salah satu tingkatan dari ketunagrahitaan. Anak tunagrahita sedang disebut juga Imbesil. Kelompok ini memiliki IQ 36-51 (Stanford-Binet), IQ 51-36 pada skala Biner dan 54-40 menurut skala Weshcler (WISC). Anak terbelakang mental sedang bisa mencapai perkembangan MA sampai kurang lebih 7 tahun, diri sendiri dari bahaya seperti menghindari kebakaran, berjalan di jalan raya, berlindung dari hujan, memakai baju sendiri, dan sebagainya.

Anak tunagrahita sedang sangat sulit bahkan tidak dapat berjalan secara akademik seperti belajar menulis, membaca, dan berhitung walaupun mereka, masih dapat menulis secara sosial, misalnya menulis namanya sendiri, alamat rumahnya, dll. Masih dapat dididik mengurus diri, seperti mandi, berkapaian, makan, minum, mengerjakan pengerjaan rumah tangga sederhana seperti menyapu, membersihkan perabot rumah tangga, dan sebagainya. Dalam kehidupan sehari-hari anak tunagrahita sedang membutuhkan pengawasan yang terus menerus. Mereka juga masih dapat bekerja di tempat kerja yang terlindung.

Pada dasarnya tidak ada satu anak pun yang memiliki karakteristik atau ciri yang sama persis dengan anak yang lainnya. Begitu pula halnya dengan anak tunagrahita, terdapat beberapa ciri yang membedakan mereka dengan anak yang lainnya, karakteristik anak tunagrahita yang akan dikemukakan pada bagian ini merupakan karakteristik yang pada umumnya tampak pada anak tunagrahita sedang sebagaimana digambarkan oleh Astati(2001:7).

a. Segi fisik

Keadaan fisik tunagrahita sedang tidak sebaik penyandang tunagrahita ringan. Mereka mengalami kurang keseimbangan, kurang koordinasi gerak sehingga ada diantara mereka yang mengalami keterbatasan dalam bergerak.

b. Segi Kecerdasan

Kelompok ini mencapai kecerdasan yang sama dengan anak normal yang berusia 7 atau 8 tahun. Sehubungan dengan ini R.P. Mandey & Jhon Wiles (1959 : 43) menyatakan bahwa : Tunagrahita sedang walaupun sudah dewasa dapat mencapai umur kecerdasan yang sama dengan anak normal usia 7 tahun.

c. Segi Bicara

Kemampuan bicaranya sangat kurang, akan tetapi masih dapat mengutarakan keinginannya walaupun dalam mengucapkan kata-kata tidak jelas, menghilangkan salah satu fonem dalam satu kata, menambah foen dalam kata, atau mengucapkan kata mengerti lainnya.

d. Segi sosialisasi

Mereka dapat bergaul dengan tetangga terdekatnya, teman-temannya dengan orang-orang di sekitar dengan baik, mereka tidak dapat bepergian jauh. Mereka masih dapat menyebut namanya, alamatnya walaupun tidak kesempurnaan anak normal

e. Segi Pekerjaan

Dalam hal pekerjaan, mereka dapat mengerjakan hal-hal yang sifatnya sederhana dan rutin. Mereka ini bekerja dengan pengawasan.

Mengacu pada keterangan di atas, bisa disimpulkan bahwa karakteristik anak tunagrahita sedang memiliki perbedaan dengan anak normal sehingga lemah dalam segi fisik dan motorik, kurang mampu menarik kesimpulan dari yang dibicarakannya, sulit berfikir abstrak, cenderung menarik diri, kurang percaya diri dan dapat melakukan pekerjaan yang sifatnya sederhana.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B. Disain – Disain Alternatif Intervensi Tindakan Yang Di Pilih

1. Hakekat Model Pembelajaran Konstruktivistik

a. Pengertian Konstruktivistik

Secara bahasa, construct berarti membangun, menumbuhkan atau membuat orang mengerjakan hal membangun. Arti lainnya sesuatu yang membawa pembangunan dari orang yang melakukannya. Menurut Piaget dalam situs internet, belajar konstruktivistik merupakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinnya dengan lingkungan. Interaksi dengan lingkungan menjadi bantuan pembentuk struktur kognitifnya, dengan ini subjek menyusun pengertian realitasnya.

Piaget dalam Reys berpendapat bahwa Constructivism is focus on individual cognitive development trough co-construsted learning environments with national, decontextualized thinking as he goal of development. Konstruktivistik berfokus pada perkembangan kognisi individu lewat lingkungan belajar yang bersifat membantu proses konstruktif disesuaikan dengan pemikiran dan tujuan pengembangan,

Konstruksi pengetahuan menurut Dienes dalam Reys adalah: Student create (construct) new mathematical knowledge by reflecting on their physical and mental actions. They observe relationships, recognize patteens, and make generalizations and abstraction as they integrate nee knowledge into their existing mental structure artinya bahwa siswa mencipta atau membangun pengetahuan  matematika baru mereka dengan merenungkan perbuatan mental dan jasmani mereka. Siswa-siswi itu mengamati hubungan-hubungan, mengenal pola-pola dan membuat kesamaan umum dan abstraksi pada saat mereka menyatukan pengetahuan ke dalam struktur mental yang sudah ada.

Menurut Joyce dan kawan-kawan, model belajar yang berhasil untuk menanamkan pegetahuan yang bertahan lama adalah pengetahuan yang didapat dari siswa dengan cara yang paling mereka inginkan.

Menurut Abbot and Ryan dalam Ginnis: Konstruktivistik berpegang bahwa belajar pada dasarnya aktif. seseorang yang mempelajari sesuatu yang baru membawa ke pengalaman dirinya. pengalaman itu membawa pengetahuan dan pola mental.

Berdasarkan uraian dari beberapa ahli di atas, belajar konstruktivistik adalah aktif menyusun pengetahuan dan pengalaman konkret, melakukan aktifitas kolaboratif dalam kelompok pembelajaran dibantu guru menyediakan benda konkret.

 

b. Karakteristik Pembelajaran Konstruktivistik

Kelas yang menggunakan pembelajaran konstruktivistik, memiliki gagasan-gagasan yang dilontarkan siswa terungkap secara jelas dan eksplisit, gagasan-gagasan ini awalnya tidak terlalu benar menurut konsep pembelajaran yang sedang diajarkan, tetapi dengan cara guru melontarkan dorongan dan menciptakan kondisi supaya gagasan ini diperbaiki lewat pemahamannya sendiri akan menjadi gagasan yang berkonsep benar.

Pengalaman yang di alami oleh siswa, pada pembelajaran konstrutivistik, berusaha dihubungkan sendiri dengan gagasan yang dimilikinya. Tahapan-tahapan pikiran yang tadinya tidak jelas bagi dirinya akan menjadi jelas karena ia berusaha meluruskannya pemahamannya sendiri. Pada prosesnya siswa mencoba gagasannya dimengerti orang sepertii  ia mengerti pengetahuan baru itu, sehingga karakteristik kelas konstrutivistik adalah tidak ada satu jawaban benar

Karakter mengajar konstruktivistik adalah menata lingkungan agar siswa termotivasi megggai makna. pihak siswa akan memperoleh pengetahuan yang berbeda tergantung pengalaman, biasanya makna yang ditemukan bersifat unik dan individualis. Seperti biasanya siswa mengalami tahapan mengkode pengetahuan, menyimpannya datau storage dan setelah itu retrieve atau mengmanggil kembali, pada saat menyimpannya terjadi asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang menyatikan persepsi dan konsep dalam pola yang sudah ada dalam pikirannya. Akomodasi adalah penyesuaian kognitif seseorang untuk menerima pengetahuan baru dalam pola di otak

Karakteristik model pembalajran ini menurut pusat kurikulum pendidikan dan kebudayaan adalah belajar sebagai proses mengkonstruksi pengetahuan berdasarkan pengalaman dan interaksi dengan lingkungan. Karakteristik lainnya addalah siswa aktif, siswa bisa jadi bekerja sendiri atau berkelompokk. Guru berperan sebagai fasilitator dalam menyiapkan kondisi yang kolaboratif.

Kesimpulan dari uraian tentang karakter belajar kontrutif adalah belajar yang mendorong interaksi siswa satu ke lain, belajar aktif menyampaikan pendapat dan pertanyaan dan belajar memusatkan perhatian pada masalah yang dibahas dengan bantuan alat peraga. Bekerja kolaboratif dalam bagian kelopok, belajar dengan guru sebagai fasilitator di kelas. Belajar dengan guru sebagai mediator antara siswa dalam mengoperasionalkan benda konkret untuk menuju kepada pemahaman operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah,


[1] Tatang, “ Taksonomi Bloom Versi Baru”, dari http://www.tatangmanguny.wordpress.com/taksonomi-bloom-versi-baru, diakses pada tanggal 16 september 2012, p.1

[2] Hasanah, Hasanahworld.wordpress.com/ teori-belajar-kognitif, diakses pada tanggal 25 September 2012, p.1

[3] Ibid, p.1

[4] Paul Ginnis, Trik dan Taktik Mengajar Strategi MEningkatkan Pencapaian Pengajaran di kelas (Jakarta: Indeks, 2008), p.63

[5] Paul R. Burden and David M Byrd, Methods for Effective Teaching (Boston: Allyn and Bacon, 1998), p.17

[6] Ginnis, op.cit, p.21

BAB III

METODELOGI PENELITIAN

 

  1. A.   Tujuan Penelitian

Penelitian tindakan yang dilakuikan ini bertujuan untuk meningkatkan Pemahaman penjumlahan pada anak tunagrahita melalui metode pembelajaran kontruktivistik kelas V di SLB Cempaka Putih.

 

  1. B.   Tempat Dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SLB Cempaka Putih, waktu penelitian dilaksanakan pada tahun 2012 dengan lama penelitian selama.

 

  1. C.   Metode dan Desain Intervensi Tindakan
  2. 1.    Metode Intervensi Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) penelitian tindakan kelas (classroom action reserch) merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas [1]. Penelitian ini dapat memperbaiki efektivitas dan efesiensi praktik pembelajaran suatu pokok bahasan tertentu pada suatu mata pelajaran melalui beberapa siklus sampai sesuai dengan target keberhasilan. Penelitian ini digunakan oleh guru di kelas (sekolah) tempat mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatkan proses pembelajaran.

Sesuai dengan penelitian Carr dan Kemmis yang dikutip oleh Siswojo Hardjodipuro, mengatakan bahwa yang dimaksud penelitian tindakan kelas (PTK) adalah suatu bentuk diri yang dilakukan oleh para partisipan (guru, siswa, kepala sekolah) dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran[2]. Hal-hal ini berarti behawa penelitian tindakan kelas merupakan suatu upaya memperbaiki pola kegiatan prose belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa melalui bantuan rekan kerja untuk mencari solusi pemecahan masalah di kelas secara tepat. Dalam prosesnya pihak-pihak yang terlibat saling mendukung satu sama lain, dilengkapi dengan fakta-fakta dan mengembangkan kemampuan analisis.

 

  1. 2.    Desain intervensi tindakan

Dasar intervensi tindakan dalam penelitian ini menggunakan siklus model Lewin. Adapun prosedur kerja dalam penelitian ini mengikuti Lewin seperti dikutip Wina Sanjaya, intervensi dapa dasarnya merupakan siklus yang meliputi (a) perencanaan, (b) tindakan, (c) observasi, (d) refleksi.[3]

Secara skematis siklus tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Model Penelitian TIndakan Kelas dari Kurt LEwin

Perencanaan

 

 

 

Refleksi                                                          Tindakan

 

Observasi

Gambar 1

Siklus Penelitian Tindakan Kelas menurut Wina Sanjaya dari Kurt Lewin

 

  1. D.           Subjek atau Partisipan dalam Penelitian

Subjek yang terlibat dalam penelitian adalah 7 orang siswa siswi kelas V tahun 2012 penelitian ini dilakukan langsung oleh peneliti. Partisipan dalam penelitian ini adalah teman sejawat yang merupakan guru kelas yang berperan sebagai obsever peneliti.

  1. E.           Peran dan Proses Penelitian dalam Penelitian

Peran peneliti dalam penelitian tindakan kelas ini adalah melakukan perencanaan setiap siklus yang akan dilakukan dan membuat laporan setelah mengadakan penelitian, peneliti melakukan pengamatan terlebih dahulu terhadap proses pembelajaran matematika di kelas V SLB Cepmpaka Putih, Jakarta Pusat, khususnya pembelajaran penjumlahan. Hasih dari pengamatan awal itu akan dijadikan dasar bagi peneliti untuk membuat rencana tindakan pada siklus pertama dengan bantuan beberapa pihak yang terlibat dilapangan.

Adapun posisi peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai pengajar. Peneliti melaksanakan tindakan langsung berdasarkan rencana pemebelajaran dan berusaha sebanyak mungkin mengumpulkan data sesuai dengan fokus penelitian. Selain itu, penelitian juga berperan membuat laporan dari apa yang dilaksanakan dengan membantu oleh obser yang akan memberikan saran atau komentar-komentar. Dengan keterlibatan peneliti secara langsung diharapkan data yang diperoleh lebih akurat..

 

  1. F.            Tahapan Intervensi Tindakan
  2. a.            Perancanaan Tindakan (planning)

Pada tahapan ini hal-hal yang dilakukan:

a)            membuat satuan perencanaan tindakan yang akan dilaksanakan di kelas. PEmberian tindakan kegiatan pada kegiatan pembelajaran matematika. Satuan perencanaan disusun berdasarkan tujuan, kegiatan media dan alat pengumpul data yang terbagi dalam 4 kali pertemuan.

b)            Menyiapkan media yang sesuai dengan tindakan yang akan diberikan kepada anak

c)            menyiapkan alat pengumpul data berupa kamera dan lembar observasi

Tabel

Satuan Perencanaan Tindakan Siklus I

Materi: Operasi penjumlahan

Tujuan: Meningkatkan kemampuan beritung penjumlahan melaului metode pembelajaran kontruktivistik

Pertemuan Tujuan Kegiatan Media Alat pengumpul data
1
  • Segi pemahaman:

1. Mengamati pemahaman siswa terhadap pola bilangan di dalam sepulh

 

  •  Melakukan pembelajaran dengan kartu domino.

Seperti bintik-bintik di dalam kartu dilihat apakah siswa tersebut tipe berhitung:

  • Berurut, memisah atau langsung tebak
  • menjumlah biangan 1 angka dengan 1 angka
  • mengemukan pendapat
  • berinteraksi dengan siswa lain dan guru
  • memusatkan perhatian pada masalah yang dibahsa
  • mengerjakan LKS I
  • Guru melakukan Tanya jawab
  • Guru sebagai mediator
  • Guru sebagi fasilitator
  • Guru meluruskan konsep salah pada siswa
  • Guru mnyediakan alat peraga konkret
Kartu domino

LKS I

Catatan langsung
2
  • Mengamati penguasaan siswa terhadap pola bilangan sampai sepuluh
  • Membangun penguasaan siswa
  •  Melakukan pembelajaran dengan batang es krim
  • Melihat apakah siswa tersebut tiper berhitung: berurut, memisah, menebak atau menghitung langsung
  • mengemukakan pendapat
  • berinteraksi dengan siswa lain dan guru
  • memusatkan perhatian pada masalah yang dibahas
  • menjumlahkan bilangan 2 angka dengan 1 angka
  • mengerjakan LKSII
  • Guru melakukan Tanya jawab
  • Guru sebagai mediator
  • Guru sebagi fasilitator
  • Guru meluruskan konsep salah pada siswa
  • Guru mnyediakan alat peraga konkret
Batang eskrim

LKS II

Catatan langsung
3
  • Membangun pemahaman siswa terhadap penjumlahan
  • melihat hasil perkembangan berpikir
  • segi konstruktivistik
  • Mengamati kemampuan guru mengelaola pembelajaran matematika beracuan kontruktivistik
  • Mengamati aktivitas siswa danguru dalam kegiatan pembelajaran matematika sesuai dengan metode pembelajaran kontruktivistik
  • Menggunakan peraga sangkar sepuluh untuk memahami penjumlahan sampai sepuluh
  • Menjumlah dua angka dengan satu angka
  • Mengemukaan pendapat
  • Berinteraksi denga siswa lain dan guru
  • Memusatkan perhatian pada masalah yang dibahas
  • Mengerjakan LKS III
  • Guru melakukan Tanya jawab
  • Guru sebagai mediator
  • Guru sebagi fasilitator
  • Guru meluruskan konsep salah pada siswa
  • Guru mnyediakan alat peraga konkret
Sangkar sepuluh dan kancing

LKS III

Catatan langsung
4
  • Membangun pemahaman siswa terhadap penjumlahan diatas sepuluh lisan.
  • Melihat hasil pengembangan level berpikir siswa
  • Segi Konstruktivistik:

a. Mengamati kemampuan guru mengelola pembelajaran matematika beracuan konstruktivistik

b. Mengamati aktivitas siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran matematika sesuai model belajar konstruktivistik

  • Menggunakan alat peraga kubus terhubung untuk memahami penjumlahan diatas sepuluh
  • Menjumlah 2 angka dengan 1 angka
  • Mengemukakan pendapat
  • berinteraksi dengan siswa lain dan uru
  • Memusatkan perhatian pada masalah yang dibahas
  • Mengerjakan LKS IV
  • Guru melakukan Tanya jawab
  • Guru sebagai mediator
  • Guru sebagi fasilitator
  • Guru meluruskan konsep salah pada siswa
  • Guru mnyediakan alat peraga konkret
kubus terhubung

LKS IV

 

Catatan lapangan

 

  1. b.            Tahapan Pelaksanaan

Berikut ini dideskripsikan lebih lanjut mengenai satuan pelaksaan tindakan yang dijalankan pada siklus I sebagai berikut:

a)            Pertemuan Pertama

Pembelajaran dilakukan dengan menggunakan tebak kartu domino seperti menebakkan jumlah titik didalam kartu, dilihat apakah siswa ini tipe menghitung: berurut, memisah. Siswa didorong untuk berinteraksi dengan siswa lainnya dan dengan guru. Siswa didukung jika berpendapat dan bertanya diusahakan pemusatan perhatian pada kegiatan belajar. Melihat kerja kolaboratif siswa dan memantau tugas guru sebagai fasilitator di kelas.

 

b)           Pertemuan Kedua

Pertemuan kedua, melakukan penjumlahan dengn batang eskrim. Pada pertemuan kedua ini peneliti melihat apakah siswa tersebut mewakili tipe menghitung berurut, memisah, mencongak dan mengerjakan LKS II. Siswa didorong untuk mengemukakan pertanyaan dan pendapat serta memusatkan diri pada masalah yang dibahas. Melihat kerja kolaboratif siswa dan memantau tugas guru sebagai fasilitator di kelas

 

c)            Pertemuan Ketiga

Pertemuan ketiga, pembelajaran melaksanakan penggunaan sangkar sepuluh untuk memahami penjumlahan sampai sepuluh, mengerjakan LKS III. Sebelumnya siswa didorong untuk memusatkan perhatian pada masalah yang dibahas saja, mendorong pernyataan dan pertanyaan, juga mendukung adanya interaksi antar siswa dan guru. Melihat kerja kolaboratif siswa dan memantau tugas guru sebagai fasilitator di kelas.

 

d)           Pertemuan Keempat

Pertemuan keempat pembelajaran menggunakan kubus terhubung untuk memahami penjumlahan di atas sepuluh, meletakkan kubus satuan dengan memecahnya dan blok batang sebagai satuan sepuluh kubus sesuai dengan nilai tempat, mengerjakan LKS IV. Siswa didorong untuk mengajukan pertanyaan dan pendapat jjuga mendorong terjadinya interaksi siswa dan siswa lainnya juga siswa dengan guru. Pada penggunaan kubus yang terhubung diusahakan siswa memusatkan perhatian pada masalah yang dibahas saja dan menemukan pemahaman penjumlahan

 

  1. c.            Pengamatan tindakan

Observing atau pendekatan pengamatan tindakan yang digunakan adalah observasi peer atau pengematan sejawat yakni observasi terhadap pengajaran seseorang terhadap orang lain. Observasi dilakukan terhadap proses model pembelajaran konstruktivistik berlangsung. Hal ini dilakukan agar data bersifat objektif.

 

  1. d.            Refleksi tindakan

Setelah dilakukan perencanaan tindakan dan pelaksanaan tindakan serta melakukan pengamatannya, peneliti mengadakan refleksi tindakan untuk menganalisis factor penyebab tidak tercapainya tindakan sesuai dengan harapan. Apabila belum terjadi peningkatan yang signifikan pada siklus pertama maka dilakukan tindak lanjut di siklus kedua untuk mencari peningkatan yang lebih signifikan.

Faktor-faktor ini dapat berupa aspek-aspek yang terkait dengan tindakan maupun aspek lain yang memunculkan masalah baru. Refleksi adalah tindakan berisikan perbandingan pemahaman di siklus I dengan siklus II.

 

 

  1. G.           Hasil Intervensi Tindakan yang Diharapkan

Perubahan yang diharapkan diantaranya kemampuan siswa yang meningkat dari tidak bisa menjadi bisa pada saat melakukan penjumlahan. Dengan cara mendekatkan belajar dengan menggunakan metode pembelajaran konstruktivistik dikatakan berhasil jika:

1. Jika kemampuan operasi penjumlahan berhasil jika 75% dari jumlah siswa memperoleh skor lebih atau sama dengan 70 dalam hal melakukan penjumlahan melalui metode pembelajaran kontruktivistik sehingga msiswa menunjukkan skor minimal 70.

2. Hasil pengamatan penelitian dikatakan berhasil jika menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang dikembangkan memenuhi criteria efektif, karena kemampuan guru mengelola pembelajaran matematika beracuan konstruktivistik baik, persentase rata-rata aktivitas siswa dalam tugas dan kegiatan pembelajaran matematika sesuai model mencapai lebih dari 86 %, hasil tes matematika siswa bernilai sama atau lebih dari KKM, guru dan siswa memberikan respon positif terhadap pembelajaran menggunakan model konstruktivistik.

 

 

 

 

 

 

  1. H.           Data dan Sumber Data

1. Data

Menurut Arikunto, data adalah hasil pencatatan peneliti, baik yang berupa fakta maupun angka[4] Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa dalam penelitian tindakan terdapat dua aktifitas yang dilakukan secara terus menerus. Tindakan ini ada dua macam yaitu data pemantau tindakan dan data penelitian. data pemantau tindakan merupakan data yang digunakan untuk mengontrol kesesuaian pelaksanaan tindakan dan rencana.

Sementara data penelitian adalah data tentang variable penelitian yaitu kemampuan siswa dalam operasi penjumlahan. Data ini digunakan untuk keperluan analisis data penelitian sehingga diperoleh gambaran peningkatan kemampuan operasi penjumlahan pada siswa.

 

2. Sumber data

Menurut Suharsimi Arikunto, sumber data adalah subjek dari mana data diperoleh[5] Sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah sumber data pemantau tindakan dan sumber data penelitian. Sumber data pemantau tindakan dalam penelitian adalah kegiatan Metode Pembelajarna Kontruktivistik yang dilakukan di kelas V SLB Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Adapun sumber data penelitian adalah kemampuan siswa terhadap operasi penjumlahan.

  1. I.              Instrumen Pengumpulan Data

Penelitian ini melibatkan data penelitian dan data pemantau tindakan. Instrumen ini bertujuan untuk memperoleh data tentang peningkatan kemampuan penjumlahan dengan metode pembelajaran Kontruktivistik.

  1. 1.            Instrumen Pengumpulan Data Penelitian
  2. a.            Definisi Konseptual

Kemampuan penjumlahan matematika adalah pemahaman seseorang untuk melakukan penjumlahan yang melibatkan penamaan, penguasaan bilangan dan pengertian dan penjelasan konsep, mengubah konsep dari symbol ke narasi, mengubah konsep penjumlahan biasa ke penjumlahan berdasarkan bilangan dasar sepuluh.

 

b. Definisi Operasional

Pemahaman terhadap operasi penjumlahan adalah skor kemampuan pemahaman siswa yang didapat melalui lembar tes berisikan 20 pertanyaan tentang kemampuan pemahaman operasi penjumlahan seluruh indikatornya. Indikator tersebut adalah (C2.1) menafsirkan; (C2.2) mencontohkan; (C2.3) menggolongkan; (C2.4) menyimpulkan; (C2.5) membandingkan; (C2.6) menjelaskan.

Dari indicator ini dikaitkan dengan dimensi penamaan, penguasaan bilangan, pengubahan konsep dari notasi ke narasi biaasa kepada penjumlahan berdasarkan sepuluh. Butir perntanyaan berjenis pilihan ganda dan diberi skor 1 jika benar dan skor 0 jika salah.

 

c. Kisi-kisi Instrumen penelitian

IIntrumen Pemahaman operasi penjumlahan terhadap bilangan cacah disusun dalam bentuk tes pemahaman operasi penjumlahan dan seluruh indikatornya.

Adapun kisi-kisi instrument pemahaman operasi penjumlahan terhadap bilangan cacah adalah sebagai berikut:

Kisi-kisi Intrumen Penelitian

No Dimensi Nomor butir soal Jumlah
C2.1 Menafsirkan C2.2 Mencontohkan C2.3 Menggolongkan C2.4 Menyimpulkan C2.5 Membandingkan C2.6 Menjelaskan  
1 Penamaan bilangan 1,2 3,6       4 5
2 Penguasaan bilangan 7   15, 20 14 9 5 6
3 Penjelasan konsep   8         4
4 Mengubah konsep 17 16 13 19 18   5
  JUMLAH 4 4 3 2 2 5 20

 

Kisi-kisi instrument pemahaman terhadap opersi penjumlahan perlu dijabarkan kembali melalui tata letak pertanyaan pada tes pemahaman terhapadap operasi penjumlahan pada bilangan cacah

 

2. Instrumen Pemantau Tindakan

a. Definisi Konseptual

            Model pembelajaran konstruktivistik adalah upaya pembelajaran mendorong interaksi siswa satu ke siswa lain, belajar aktif menyampaikan pendapat dan pertanyaan dan belajar memusatkan pada masalah yang dibahas dengan bantuan alat peraga dan belajar dengan guru sebagai fasilitator dan mediator di kelas

 

b. Definisi Operasional

Model pembelajaran konstruktivistik adalah skor yang diperoleh guru dan siswa setelah pengamat melakukan pengamatan tentang penerapan model pembelajaran konstruktivistik yang disusun berdasarkan skala Likert.[6] Skala disusun berupa pernyataan yang dimiliki 4 alternatif jawaban dengan criteria sebagai berikut: diberi skor 1 jika menunjukkan kurang, skor 2 jika menunjukkan sukup, skor 3 jika menunjukkan baik dan skor 4 jika menunjukkan baik sekali.

Dimensi tentang model pembelajaran konstruktivistik yaitu: (1) mendorong interaksi siswa satu ke siswa lain, (2) belajar aktif menyampaikan pendapat dan pertanyaan, (3) belajar memusatkan perhatian pada masalah yang dibahas dengan menggunakan alat peraga, (4) siswa bekerja kolaboratif dalam belajar.

 

c. Kisi-kisi Instrumen Pembelajaran Konstruktivistik

Instrumen pemantau tindakan guru disusun dalam bentuk skala Likert.[7] (1) diberi skor 1 jika kurang, (2) diberi skor 2 jika menunjukkan cukup, (3) diberi skor 3 jika menunjukkan baik dan (4) diberi skor 4 jika menunjukkan baik sekali.

Adapun kisi-kisi instrument pemantauan tindakan siswa dalam model pembelajaran konstruktivistik sebagai berikut:

Kisi-kisi Instrumen Pemantauan Tindakan Siswa dalam Model Pembelajaran Konstruktivistik

No. Dimensi Jumlah butir pernyataan No. Butir
1. Mendorong interaksi siswa satu ke siswa lain 2 1,2
2. Belajar aktif menyampaikan pendapat dan pertanyaan 2 3,4
3. Belajar memusatkan perhatian pada masalah yang dibahas dengan menggunakan alat peraga 1 5
4. Siswa bekerja kolaboratif dalam kelompok 1 6
  Jumlah 6 6

 

Adapun kisi-kisi instrument pemantauan tindakan guru pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

Kisi-kisi Instrumen Pemantauan TIndakan Guru dalam Model pembelajaran Konstruktivistik

No. Dimensi Jumlah butir pernyataan No. butir
1. Guru berfungsi sebagai mediator dengan menyediakan benda konkret 2 7, 8
2. Guru berfungsi sebagai fasilitator 2 9, 10
  Jumlah 4 4

 

 

  1. J.            Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan selama pelaksanaan pembelajaran, yang di dalamnya mencakup :

  1. Proses

Teknik pengumpulan data selama proses pembelajaran berupa :

  1. Observasi melalui pengamatan langsung secara sistematis mengenai permasalahan yang diteliti kemudian dibuat catatan.
  2. Lembar pengamatan yang berbentuk checklist.
  3. Catatan lapangan, yang berisi catatan kekurangan yang harus di perbaiki dan kelebihan yang harus dipertahankan penelitian.
  4. Dokumentasi berupa foto-foto selama penelitian.
  5. Aspek evaluasi yaitu kemampuan pemahaman siswa melakukan operasi penjumlahan pada saat penelitian berlangsung.

a. Pengamatan terhadap guru mengajar dengan model pembelajaran konstruktivistik

b.Pengamatan terhadap proses siswa melakukan operasi penjumlahan

c. Instrumen tes tertulis operasi penjumlahan terhadap bilangan

 

  1. K.            Teknik Pemeriksaan Data

Untuk menguji keabsahan data dilakukan triangulasi yaitu mengecek melalui berbagai sumber dengan membandingkan apa yang dilakukan peneliti pada saat pembelajarna berlangsung dengan pendapat pengamat. Adapun sebelum penelitian dilakukan peneliti, peneliti terlebih dahulu berkonsultasi dengan teman sejawat dan ahli dibidang pembelajaran matematika ini. Dalam penelitian ini pemeriksaan dilakukan oleh para dosen pembimbing, sementara pengecekan dilakukan dengan dokumentasi foto penelitian

 

L. Analisis Data dan Interpretasi Hasil Analisis

1. Analisis Data

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan penjumlahan terhadap bilangan, maka teknik yang digunakan dalam menganalisa data adalah perhitungan prosentase pemahaman operasi penjumlahan melalui model pembelajaran konstruktivistik untuk mengetahui hasil sesudah dilakukan penelitian serta perhitungan persentase kemampuan guru menerapkan model pembelajaran konstruktivistik dalam proses pembelajaran. Analisis data dalam penelitian ini terdiri dari reduksi data, paparan data dan penyimpulan hasil analisis.

Rumus menghitung persentase kemampuan dan pemantauan model pembelajaran konstruktivistik operasi penjumlahan sebagai berikut:

 

 

P = x  X 100 %

         n

 

 

 

keterangan:   P = Persentase

x = jumlah skor pengamatan

n= banyak butir pernyataan

Jika dalam penelitian tindakan siklus pertama belum berhasil, akan diteruskan ke tindakan kedua dan seterusnya sampai tampak bahwa model pembelajaran konstruktivistik dapat meningkatkan kemampuan terhadap operasi penjumlahan pada bilangan

 

2. Interpretasi Hasil Analisis Data

Data hasil pengamatan terhadap operasi penjumlahan pada bilangan dikatakan berhasil jika sudah mencapai 75 % dari indicator yang ditentukan, akan tetapi jika belum mencapai 75 % maka peneliti dilanjutkan ke siklus berikutnya.

Data hasil pemantau untuk guru dan sis dikatakan berhasil jika sudah mencapai minimal 75 % dari indicator yang ditentukan dan jika belum berhasil maka penelitian dilanjutkan ke siklus berikutnya.


[1] Zaenal Aqib, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta; Yrama Widya, 2006), h 13

[2] Jamal Ma’mur Asmani, Penelitian Tindakan Kelas, (Jogjakarta; Laksana, 2011), h 34

[3][3] Wina Sanjaya, Penelitian TIndakan Kelas ( Jakarta, Kencana, 2009), p.49

 

[4] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta 2002), p.96

[5] Ibid, p.107

[6] Djaali dan Pudji Mulyono, Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan (Jakarta: Grasindo, 2008), p.28

[7] Ibid, p.28

Blog di WordPress.com.

Atas ↑